KATEGORI NOMINA DALAM BAHASA INDONESIA
KATEGORI NOMINA
DALAM
BAHASA INDONESIA
A.
Pengertian Nomina
Kridalaksana (2008:68) mengatakan bahwa nomina adalah
kategori yang secara sintaksis (1) tidak mempunyai potensi untuk bergabung
dengan partikel tidak, (2) mempunyai
potensi untuk didahului oleh partikel dari.
Burton-Roberts (dalam Putrayasa, 2008:67) mendefinisikan bahwa Kata benda (nomina) terdiri atas nama
seseorang, tempat, atau benda. Nomina mencakup numeralia dan pronomina.
Terdapat nomina yang sifatnya abstrak maupun konkret
merujuk pada bentuk dari suatu benda. Nomina juga merujuk kepada segala hal yang
dapat dibendakan dan sering digunakan untuk menyebutkan makhluk hidup, benda
mati, ataupun tempat. Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat
disimpulkan bahwa nomina atau kata benda adalah kelas kata yang menyatakan nama
diri seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan. Ciri utama
nomina adalah dapat dingkarkan dengan kata ingkar bukan.
B.
Ciri-Ciri Nomina
1. Nomina dari segi semantis
Berdasarkan
segi semantis, kata benda adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang,
benda, dan konsep atau pengertian. Misalnya; kambing, sapi, kuda, cerek, gelas, sinonim, morfologi, rambut, dan kulit.
2.
Nomina dari segi
sintaktis
Dari segi sintaksis, nomina memunyai ciri-ciri:
a.
Dalam kalimat yang berpredikat
verba, nomina cenderung menduduki fungsi subjek, objek, pelengkap atau
keterangan, misalnya kata pemerintah dan perkembangan pada kalimat pemerintah akan memantapkan perkembangan dan kata pekerjaan pada kalimat Ayah
mencarikan saya pekerjaan juga merupakan nomina.
b.
Nomina dapat
diikuti oleh kata itu, misalnya perempuan itu, sepeda itu, gedung itu dan uang itu.
c.
Nomina dapat
didahului oleh kata bilangan, misalnya dua
puluh kursi, beberapa permasalahan, dan
setengah tahun.
d.
Nomina tidak dapat
diingkarkan dengan kata tidak. Kata
pengikarannya adalah bukan, misalnya
kata Irene pada kalimat bukan Irene yang
membuang sampah dan kata DPRD pada kalimat bukan DPRD yang saya maksud juga merupakan nomina.
e.
Nomina umumnya
dapat diikuti oleh adjektiva, baik secara langsung maupun dengan diantarai oleh
kata yang, misalnya ruangan yang bersih, rumah mewah, dan buku baru.
Berdasarkan segi perilaku sintaksisnya, nomina dapat
dilihat berdasarkan posisi atau pemakaiannya dalam tataran frasa. Pada frasa
nominal, nomina berfungsi sebagai inti frasa. Sebagai inti frasa, nomina
menduduki bagian utama, sedangkan pembatasnya berada di depan atau di belakangnya.
Jika pembatas frasa nominal berada di depan, pembatas tersebut umumnya berupa
numeralia atau kata tugas, misalnya:
lima
lembar
seorang
guru
beberapa
sopir
banyak
masalah
bukan
jawaban
Jika pembatas berada di belakang nomina, frasa nominal
dapat berupa urutan dua nomina atau lebih atau nomina yang diikuti oleh
pembatas yang berupa nomina, ajektiva, dan verba. Misalnya:
masalah penduduk
buku catatan
uang saku
bulanan
kelas ringan
pendapat yang
aneh
istilah baru
pola berpikir
keluarga berencana
3.
Nomina dari segi
bentuk atau morfologis, nomina terdiri atas dua jenis, yaitu nomina yang
berbentuk kata dasar dan nomina trurunan. Penurunan nomina tersebut dapat
dilakukan dengan afiksasi, perulangan atau pemajemukan. Nomina mencakup
pronomina dan numeralia.
a.
Nomina dasar
Nomina
dasar adalah suatu kata yang menunjukkan identitas asli atau nyata dari suatu
objek (benda) yang tidak dapat dijabarkan atau diuraikan lagi ke bentuk yang
lain. Misalnya:
Lemari
Radio
Televisi
Buku
Pulpen
Meja
Kursi
Piring
Gelas
Sendok
Kayu
Batu
b. Nomina
turunan
1) Nomina afiksasi
Nomina
afiksasi adalah nomina turunan hasil proses afiksasi atau penambahan afiks. Afiksasi
disebut juga dengan pengimbuhan. Chaer (2006:90) mengatakan bahwa penggunaan
kata benda berimbuhan sesungguhnya sejalan dengan kata benda yang berimbuhan
itu. Proses afiksasi nomina antara lain:
a)
Prefiks per- digabungkan dengan verba dasar,
seperti pelajar dan petinju.
b)
Sufiks -an digabungkan dengan verba dasar,
seperti makanan, minuman, tulisan, dan tembakan.
c)
Sufiks -an digabungkan dengan numeralia dasar,
seperti satuan.
d)
Sufiks -an digabungkan dengan nomina dasar,
seperti lautan dan pahatan.
e)
Konfiks ke-an digabungkan dengan adjektiva dasar,
seperti keramahan, keindahan, dan kesakitan.
f)
Konfiks ke-an digabungkan dengan nomina dasar,
seperti kerajaan, kecamatan, kesultanan, dan kelurahan.
g)
Konfiks ke-an digabungkan dengan numeralia dasar,
seperti kesatuan.
h)
Konfiks per-an digabungkan dengan verba dasar,
seperti pertunjukan, pekerjaan, dan permandian.
i)
Konfiks per-an digabungkan dengan adjektiva
dasar, seperti perpanjangan, persamaan, dan perbaikan.
j)
Konfiks per-an digabungkan dengan nomina dasar,
seperti pelajaran dan perumahan.
k)
Konfiks peng-an digabungkan dengan verba dasar,
seperti penurunan, penarikan, dan pengangkutan.
l)
Konfiks peng-an digabungkan dengan adjektiva
dasar, seperti penghijauan, pemendekan,
pemutihsn dan pembulatan.
m)
Konfiks peng-an digabungkan dengan nomina dasar,
seperti pembuktian, pemakaman, penamaan, dan penyampulan.
n)
Prefiks peng- digabungkan dengan verba dasar,
seperti pengintip, peninju, dan pemukul.
o)
Prefiks peng- digabungkan dengan adjektiva dasar
seperti pemurah, peramah, dan pembesar.
p)
Prefiks peng- digabungkan dengan nomina dasar
seperti penyapu, pengecat, dan pengebor.
2) Nomina reduplikasi
Nomina
reduplikasi merupakan hasil pembentukan nomina dengan cara pengulangan kata
dasar, seperti rumah-rumah, kota-kota,
kursi-kursi dan orang-orang.
3) Nomina komposisi
Nomina
komposisi adalah nomina hasil proses pemajemukan, seperti rumah sakit, rumah susun, rumah kantor, rumah toko, dan rumah singgah.
4) Nomina abreviasi
Nomina
abreviasi adalah nomina hasil pembentukan dari proses morfologis berupa
penanggalan satu atau beberapa bagian leksem atau kombinasi leksem sehingga
terjadi bentuk baru yang berstatus kata. Misalnya DPR, DPD, MA, dan Pilgub.
C.
Subkategorisasi Nomina
1.
Nomina bernyawa dan
nomina tak bernyawa
a)
Nomina bernyawa
dapat disubtitusikan dengan ia atau mereka, sedangkan nomina tak bernyawa
tidak dapat. Nomina bernyawa dapat dibedakan menjadi:
1)
Nomina persona
(insan)
Nomia
persona terdiri atas:
i.
Nama diri, seperti Susilo, Bambang, Suharto, Irene, dan Aviat.
ii.
Nomina kekerabatan,
seperti nenek, kakek, ibu, bapak, ayah, dan adik.
iii.
Nomina yang
menyatakan atau yang diperlakukan seperti orang, misalnya hantu, malaikat, dan tuhan,
iv.
Nama kelompok
manusia, seperti Jepang, Melayu, Eropa, dan Bali.
v.
Nomina tak bernyawa
yang dipersonifikasikan seperti Inggris dan DPR
2)
Flora dan fauna
yang memunyai ciri sintaksis, yaitu
i.
Tidak dapat
disubtitusikan dengan ia, dia, atau mereka.
ii.
Tidak dapat
didahului oleh partikel si, kecuali
flora dan fauna yang dipersonifikasikan seperti si Kancil dan si Kambing.
b)
Nomina tak bernyawa
dapat dibagi menjadi
1)
Nama lembaga,
seperti DPR, MPR, dan UUD.
2)
Nama geografis,
seperti Bali, Jawa, utara dan selatan.
3)
Waktu, seperti senin, selasa, pukul 8, sekarang, besok, dan dulu.
4)
Nama bahasa,
seperti Bahasa Indonesia, Bahasa Bugis, dan
Bahasa Arab.
5)
Ukuran dan takaran,
seperti kilometer, kali, goni, lusin, dan
kodi.
6)
Tiruan bunyi,
seperti aum, dengung, dan kokok.
2.
Nomina terbilang
dan nomina tak terbilang
Nomina terbilang adalah nomina
yang dapat dihitung dan dapat didampingi oleh numeralia seperti kantor, kampung, kandang, buku, wakil,
sepeda, kursi, pensil, dan orang.
Nomina tak terbilang adalah
nomina yang tidak dapat didampingi oleh numeralia seperti udara, kebersihan,
kemanusiaan; termasuk pula nama diri
dan nama geografis.
Chaer,
Abdul. 2006. Tata Bahasa Praktis Bahasa
Indonesia. Jakarta: Adi Mahasatya.
Kridalaksana, Harimurti. 2008.
Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama
Putrayasa,
Ida Bagus, 2008. Kajian Morfologi (Bentuk derivasional dan Infleksional. Bandung: Refika
Aditama.
Komentar
Posting Komentar